Novel CINTA Dari Arruzz Media

Novel CINTA Dari Arruzz Media

NOVEL: Violinis dan Kedai Rindu

Penulis: Ambhita Dhyaningrum

Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang violinis yang bernama Kitara dalam menemukan makna cinta. Cerita diawali dengan kisah singkat dari Firman yang merupakan teman masa kecil Kitara atau Tara.

Firman kecil selalu dididik untuk memiliki nyali yang besar. Semangat berkompetisi mengakar kuat dalam dirinya. Firman selalu marah jika kedudukannya sebagai peringkat pertama di sekolah goyah karena temannya mendapatkan nilai yang lebih tinggi darinya. Seluruh harinya di sekolah menjadi sangat tidak menyenangkan dan ia akan cemberut sepanjang sisa hari.

Salah satu rival berat Firman adalah Tara. Mereka telah menjadi teman semenjak SD. Firman tidak menyukai Tara. Di matanya, Tara hanyalah seorang anak kaya yang terbiasa dimanja. Tara, memiliki nama panjang Kitara, terlahir di lingkungan yang akrab dengan musik. Ayahnya berasal dari keluarga pecinta musik. Keluarga kakek Tara memiliki kelompok orkes yang terkenal di zamannya. Tara kecil sudah menunjukkan minatnya di bidang musik. Sedari kecil ia telah terbiasa melihat ayahnya memegang alat musik kesayangannya, sebuah biola akustik kuno yang sudah cukup mewah pada zamannya.

Namun, seperti halnya takdir yang telah memisahkan Tara dari ayahnya, begitupun cara takdir bekerja mempertemukan kembali Tara dengan Firman. Seperti mengulang cerita, dengan bertukar peran, Firman datang ketika Tara tertimpa kesusahan. Berita meninggalnya ayah Tara tanpa sengaja diketahuinya dari tetangga yang punya bisnis di kota. Nama Ahmad Hasan tak pernah dapat dilupakan Firman. Laki-laki itu telah banyak membantu keluarganya, ketika bapaknya tertimpa musibah. Firman datang untuk melayat bersama bapak dan ibunya. Kali ini kondisi benar-benar terbalik. Firman dan keluarganya mendulang sukses, sementara Tara berada dalam kondisi di bawah titik nol. Namun, pertemuan mereka kembali seakan melukis garis takdir baru, bahwa keduanya akan saling terus terkait.

Singkat cerita, Tara disibukkan dengan kegiatannya kuliah dan sebagai pemain biola di Lindap, sebuah kelompok teater di kampusnya. Kesibukannya bertambah ketika dia ikut bergabung dengan grup band Avignam. Pada mulanya, kesemuanya dapat dijalani Tara dengan baik hingga adanya bentrokan jadwal antara latihan di teater dan band. Bentrokan ini kemudian menjadikan Tara memilih untuk bergabung dengan bandnya dan sering tampil di Kedai Rindu. Di kedai inilah Tara awal mula Tara mengenal, mencari, dan menemukan makna cinta. Banyak hal yang harus dilalui Tara.  Peristiwa yang dialami dengan Lana, Lisa, Haga, dan si kecil Attar. Selain itu, bagaimana kisah cintanya dengan Dewa. Namun rupanya, cinta yang sebenar-benarnya sudah dia temukan sejak lama. Sebuah perasaan tulus dari teman masa kecilnya, Firman.

NOVEL: MATARAISA

PENULIS: Abidah El Khalieqy

Mata Raisa: Mengobarkan Pelita dan Menyerukan Kebangkitan Kaum Perempuan

Mata. Melalui mata, kita bisa menyelami kegelisahan seseorang. Melalui mata pula kita bisa melihat ada rahasia tersembunyi di kedalaman hati. Melalui mata kita dapat mengetahui seberapa besarkah perhatian kita terhadap sekitar, terhadap makhluk Tuhan yang lain. Mata pula yang dapat menangkap segala peristiwa yang terjadi dan menjadikannya sebuah pelajaran hidup.

Novel ini akan mengajak kita untuk menyelami apa yang terbaca dari mata seorang perempuan. Menguak rahasia yang ada di kedalaman mata hati perempuan. Tak hanya itu, novel ini juga sekaligus sebagai pelecut bagi kaum perempuan untuk tetap berdiri tegak menyuarakan eksistensinya.

Bercerita tentang kehidupan Raisa, seorang novelis terkenal dan kontroversial. Novelnya mampu membuka mata setiap perempuan yang membacanya. Dielu-elukan karena ia mampu membawa derajat dan harga diri seorang perempuan ke tempat yang terhormat. Dan menjadi kontroversial karena ia membuka tabir yang selama ini dianggap sebagai penghalang yang merintang di setiap langkah perempuan.

Bersama manajernya yang selalu setia menjadi pendamping di setiap talkshownya, Raisa tak hanya bercerita tentang novelnya tetapi juga mengobarkan semangat para perempuan yang selalu mendominasi di setiap talkshownya. Raisa bagai kesegaran di tengah padang pasir. Melegakan dahaga bagi setiap perempuan yang haus akan sebuah pelukan dan pengakuan.

Raisa digambarkan sebagai sosok perempuan yang mempunyai intelektualitas tinggi. Namun, kecerdasannya tersebut tidak lantas menjadikannya abai terhadap kodrat dan kewajibannya sebagai seorang perempuan. Ia tetaplah perempuan yang membutuhkan tempat pengayoman, perlindungan, dan juga cinta.

Semoga novel ini dapat merangkul semua perempuan untuk bisa bersama-sama menyuarakan rahasia tanpa takut dihakimi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.