Minimalisme dan Jamaah Maiyah Cak Nun

27/06/2020 177

Saya dibuat bertanya-tanya ketika mendapati tema Kenduri Cinta bulan November tahun 2015. Mempertanyakan apa gerangan makna di balik tema Kegembiraan Bersedekah Maiyah Kepada Indonesia yang dihelat saat itu. Apa kaitan Maiyah yang bersedekah kepada Indonesia sehingga membuat gembira. Entahlah, saat itu saya begitu penasaran hingga datang melangkahkan kaki menuju Taman Ismail Marzuki di bilangan Cikini, Jakarta.

Kenduri Cinta adalah salah satu simpul Jamaah Maiyah di Jakarta yang mengadakan forum diskusi umum dan terbuka setiap bulan pada hari Jumat pekan kedua. Di dalamnya terjadi pertukaran ide dan pendapat dalam dialektika yang hangat, serius, mendalam, filosfis disertai humor yang seringkali membuat perut sakit karena terpingkal-pingkal.

Setiap bulan memiliki tema yang berbeda dengan narasumber yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi aktual yang sedang terjadi pada masyarakat Indonesia. Pokok bahasan yang dibahas begitu beragam, mulai agama, politik, ekonomi, sejarah, budaya, seni, sastra dan sebagainya tumplek blek dalam forum Kenduri Cinta yang dihelat dari malam sekitar pukul delapan berlangsung hingga adzan shubuh hendak bekumandang sekitar pukul empat.

Muhammad Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan Cak Nun merupakan tokoh sentral yang menjadi narasumber dalam setiap helatan Maiyah. Cak Nun memberikan rumusan kepada Jamaah Maiyah untuk berpikir secara seimbang dalam menyikapi suatu keadaan, khususnya keadaan yang sedang terjadi di Indonesia tercinta ini. Tak jarang Cak Nun memberikan sudut pandang baru dalam melihat sebuah persoalan sehingga lebih bijak dalam menyikapi dan tidak terlalu mudah terpancing emosi.

Bersamaan dengan mulai mengenal alur dan warna berpikir yang dihelat di setiap forum Maiyah, saya juga perlahan-lahan mulai mempelajari konsep gaya hidup minimalis. Saat itu saya begitu terkagum-kagum dengan gerakan minimalisme yang menggema di Amerika. Saya merasa gerakan minimalisme adalah sebuah gerakan yang revolusioner dalam melawan kapitalisme global dan materialisme.

Namun, setelah menyelami begitu dalam alam pemikiran Jamaah Maiyah saya begitu kecele dengan konsep gerakan minimalisme yang digadang-gadang di Amerika itu. Gerakan yang awalnya saya anggap revolusioner itu ternyata sudah begitu mendarah daging dalam keseharian Jamaah Maiyah. Dari apa yang saya temui di sepanjang mengikuti helatan Maiyah, saya selalu mendapati manusia-manusia sederhana yang begitu bersemangat mencari makna hidup sebagai wujud kesyukuran. Gaya dan penampilan orang-orang Maiyah kerap menipu, maksudnya penampilan mereka begitu bersahaja, tetapi begitu dalam dalam memaknai hidup.

Rupanya kesederhanaan yang orang-orang Maiyah tunjukkan ini adalah sebentuk cerminan dari pemaknaan atas intisari hidup yang kerap disampaikan melalui petuah-petuah Cak Nun. Kesederhanaan hidup juga tercermin dari tindak tanduk Cak Nun sebagai orang yang dituakan dan didengar nasihatnya oleh Jamaah Maiyah.

Dalam buku Tuhan Pun Berpuasa, Cak Nun menyampaikan cakrawala baru dalam memaknai puasa. Puasa bukan semata-mata menahan lapar dan haus, tetapi Cak Nun mengajak memaknai hal-hal yang lebih esensial berkaitan dengan puasa. Di mana esensi puasa itu nantinya bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Puasa merupakan sebentuk latihan untuk menahan keinginan nafsu. Meletakkan nafsu pada proporsinya sehingga kehidupan menjadi seimbang tidak melulu mengedepankan nafsu.

Dalam kaitannya dengan gaya hidup minimalis yang merupakan antitesa dari gaya hidup materialistis dalam konsumsi yang berlebihan terhadap barang dan jasa, maka pandangan-pandangan yang disampaikan oleh Cak Nun sejalan dengan penerapan gaya hidup minimalis. Bahkan saya mendapati apa yang dituliskan, diucapkan dan dilakukan oleh Cak Nun jauh melampaui konsep gaya hidup minimalis yang saat ini begitu digemari di Amerika dan Jepang. Sehingga tak begitu mengherankan jika Cak Nun menjadi teladan lelaku bagi Jamaah Maiyah.

Bukan maksud saya untuk membentur-benturkan dan membanding-bandingkan gerakan gaya hidup minimalis di dunia dengan apa-apa yang ada dalam Jamaah Maiyah, tetapi saya hanya ingin menyampaikan korelasi yang kuat antara lelaku gaya hidup minimalis dengan perilaku orang-orang Maiyah pada umumnya. Jadi seandainya agak kesusahan mencari contoh kongkrit hidup minimalis di Indonesia, maka datang saja ke forum pengajian Jamaah Maiyah yang tersebar di seluruh simpul-simpul Maiyah yang ada hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Kembali kepada makna tema Kegembiraan Bersedekah Maiyah Kepada Indonesia dalam helatan Kenduri Cinta bulan November 2015, lebijh kurang memiliki makna sebagai berikut,

“Orang-orang Maiyah hatinya selesai dari keruwetan duniawi, orang-orang Maiyah meyakini bahwa Allah sangat serius dalam mencukupi setiap detail kebutuhan hidupnya. Termasuk dengan adanya Indonesia, personalitas orang-orang Maiyah sebagai sesama anak-anak dari bangsa-bangsa di Nusantara ini mengakui bahwa Indonesia adalah bagian dari dirinya, bagian dari identitas peran sosialnya. Maka orang-orang Maiyah tidak akan menagih apa-pun kepada Indonesia. Sebaliknya orang-orang Maiyah dengan bergembira akan bersedekah kepada Indonesia sekemampuanya dengan segala keterbatasannya.“

 

Penulis: Diptra

* Tulisan lengkapnya diterbitkan dalam buku "Minimalisme: Seni untuk Menyederhanakan Hidup". Klik "BELI BUKU" untuk membelinya.

 




Copyright 2020 Arruzz Media. All rights reserved. Website by JMW
Today Visitors: 6 Total Visitors: 2870 Online Visitors: 1